Komisi Pemilihan Umum
Kota Bogor
Kamis, 09 Mei 2021
Bio-Politik Dan Kepanikan
Administrator   02 Desember 2020  
Bio-Politik Dan Kepanikan

Oleh: Dr. Bambang Wahyu

 Sebaran Covid-19 membuat panik masyarakat dunia. Banyak negara memutuskan lockdown. Implikasinya aktivitas sosial ekonomi mengalami deformasi. Respons kepanikan publik terlihat dari panic buying dan kelangkaan (scarcity) bahan makanan dan obat-obatan. Publik secara tiba-tiba kehilangan prospektif utopia. Mereka menyerbu supermarket dan pusat perbelanjaan tanpa ada yang menyuruh atau mendesain. Ini dilakukan oleh warga urban yang relatif rasional.

Dari sudut pandang biasa, kepanikan ini mungkin respon psikis untuk proteksi diri. Panik tidak memiliki bahan makanan kalau suatu saat diisolasi di rumah. Tapi persoalannya bukan itu. Publik tidak siap menerima kondisi extraordinary dalam hidupnya. Mereka terbiasa berada dalam kondisi “dinormalkan” oleh kontrol diri dan tidak menyisakan ruang improvisasi di luar standar hidup.

Tidak ada kepentingan dalam panic buying itu kecuali “respon sesaat”. Kepanikan itu bersumber dari rumor dan semua orang mengidentifikasinya dari berbagai sudut pandang dan kepentingan. Walaupun banyak yang tidak percaya dengan rumor itu tapi mereka berasumsi lebih baik berbelanja juga.

Yang menarik dari situasi ini, presumed to believe  tidak harus ada. Pengaruh rumor sudah cukup membuat orang percaya. Dalam kepanikan, semua orang berlomba-lomba memuntahkan beragam posting informasi yang memperkuat rumor itu. Semua orang dapat memainkan peran sebagai “penyambung lidah” (istilah lain untuk whistler blower) bagi orang lain. Efeknya sama yaitu menyetujui rumor itu dan panik.

Bio-politik

Slavoj Zizek dalam Violence (2008) mendefinisikan bio-politik sebagai sistem kekuasaan yang menyusun cara hidup melalui penataan “rasa aman” dan kesejahteraan. Sistem politik ini sebentuk administrasi dan manajemen cara melangsungkan hidup melalui proyeksi sistem ahli.

 

Bio-politik merupakan depolitisasi yang secara sosial dianggap objektif: diet ketat, anti-aging, pendidikan berkualitas, digitalisasi, gaya hidup, dll. Ia menjadi narasi universal publik sehingga menjadi normalitas sehari-hari. Misalnya tentang ekspektasi hidup sejahtera atau menikmati hidup. Di balik itu, bio-politik menumbuhkan kontrol atas diri melalui serangkaian regulasi dan self-management dengan adagium “hidup bahagia jika kita mengontrol kesehatan, diet ketat, makanan non kolesterol, menggunakan produk kesehatan, olahraga zumba, dll“.

Jika publik tidak mengikutinya, muncul rasa panik (terhadap endemi penyakit, terhadap penuaan dini, dll). Politik ketakutan memanipulasi paranoid orang-orang yang mengalami kepanikan. Jadi eskalasi bio-politik memobilisasi manusia melalui ketakutan, kepanikan, dan kecemasan.

Sebagai bentuk administrasi, bio-politik mereduksi manusia pada “kekosongan hidup” (bare of life). Mereka dengan mudah mengisinya dengan ekspektasi, fantasi, dan hasrat sesuai dengan kepentingan mereka. Maka publik adalah hasil objektivasi administrasi dan manajemen. Mereka mengalami transmutasi pengetahuan dalam ruang hidupnya, ditata oleh sistem pengetahuan dan hilang kendali tanpanya.

Di sisi lain, panic buying menegaskan stratifikasi sosial itu secara jelas. Manakala kelas menengah atas menyerbu supermarket secara mutatis mutandis mengabarkan ke semua orang bahwa perbedaan sosial itu memang ada. Tidak ada respek pada yang lain karena mereka mengimajinasikan apa yang bisa dipercaya. Rumor kelangkaan.

Master Penanda

Ini adalah sebentuk “kebutaan bertindak” (a blind acting out), kata Zizek dalam The Sublime Object of Ideology (2008), yaitu ketidakmampuan mengartikulasi diri melalui tindakan-tindakan realistis berhadapan dengan situasi yang tidak mampu dikontrolnya.

 

Penyebabnya multiplisitas sosial politik ekonomi direduksi hanya pada dua cara “ya dan tidak”, afirmasi atau negasi. Publik tidak diberi pilihan untuk mengembangkan piranti rasionalnya. Semua hal harus melalui proyeksi “sistem ahli” (expert system). Mereka lah yang berhak menentukan apa yang baik dan buruk bagi publik.

Piranti rasional ini disebut Alain Badiou dengan “Master-Penanda” (Master-Signifier). Dalam semiotika, konsep penanda (signifier) merujuk pada benda material, yang bisa diinderakan. Ia bukan ekpresi mental sebatas narasi. Dalam kepanikan Covid-19 tidak ada Master-Penanda yang menjelaskan apa dan bagaimana. Yang disajikan hanya jumlah suspeksi, waspada nasional, dan karantina. Alih-alih memberi ketenangan, kepanikan membuncah bersamaan dengan ketidaksiapan negara mengendalikan penyebaran rumor tersebut. Dalam kasus ini, Master-Penanda yang dibutuhkan adalah ketersediaan rumah sakit dan fasilitas kesehatan, ketersediaan kebutuhan pokok, atau minimal ketersediaan hand sanitizer yang terjangkau oleh publik.

Normalnya, jika ada situasi chaos dan pihak berwenang tidak mampu menanggulanginya, akan muncul Master-Penanda untuk menemukan titik hubung (nodal point) dari situasi itu. Master-Penanda menyusun penanda baru sehingga situasi chaotic itu dapat dipahami.  Sistem ahli kemudian mengelaborasi jejaring narasi dan pengetahuan yang menopang pembacaan atas situasi itu. Misalnya definisi Covid-19, ciri-cirinya, cara antisipasi dan kurasinya. Semuanya dihubungkan dengan inisial Master-Penanda tadi. Sebenarnya Master-Penanda tidak menambahkan konten positif tapi hanya memasukkan penanda baru yang akan merestorasi situasi chaos menjadi normal kembali.

Abad Post-Politik

Tapi sekarang kita hidup dalam era post-politik. Pada era ini, bukan sistem politik, ideologi, politikus, atau negara yang menjadi faktor determinan. Tapi kolaborasi sistem ahli (the expert system) dengan pelaku bisnis. Mereka mencipta satuan-satuan ekonomi, sosial, dan budaya serta mempopulerkan tata intelektualitas baru ke dalam pengalaman kita.

 

Mereka memanipulasi beragam kebutuhan manusia melalui serangkaian pengalaman sejarah yang sama sekali baru dan belum pernah dialami sebelumnya. Standing party dengan makan berdiri, menikmati junk food, sulam alis, dunia dalam genggaman, dan lain sebagainya. Seseorang membeli barang-jasa dengan tujuan ingin merasakan sensasi pengalaman itu.

Alur konsumsi tidak lagi berkaitan dengan keringat buruh pada kegiatan produksi. Semua orang bisa menjadi konsumen yang mengandaikan kualitas hidup berkelanjutan. Dalam konsumsi, kita bisa membeli sekaligus beramal. Membeli satu produk sekaligus membantu konservasi badak di Ujung Kulon.

Post-politik mencabut yang politis dari dinamika politik (Zizek, 1999), menggeser kontrol perencanaan birokrat ke jejaring kerja Kerja bukan lagi pemenuhan kebutuhan biologis atau aktualisasi diri a la Maslow. Tapi ekspektasi kebahagiaan: bahagia bekerja, bahagia belajar, atau hedonisme spiritual.

Dalam post-politik, ada pengaturan strategis terhadap hidup seseorang. Dengan kekuasaan administratifnya, sistem ahli mengartikulasi beragam kontrol diri untuk mencapai kebahagiaan itu. Mereka menyediakan kemudahan menjalani hidup sesuai dengan prinsip kesenangan. Konsfigurasi imajinatif itu yang membuncah dalam kepanikan publik karena menghilangkan ruang posibilitas dalam kontrol dirinya.

 

Daftar Pustaka

Zizek, Savoj. The Ticklish Subject: The Absent Centre of Political Ontology. New York&London: Verso. 1999

_____________ . The Sublime Object of Ideology. (1st edition). New York&London: Verso. 2008

_____________ . Violence. New York: Picador. 2008

Bahan Sosialisasi
Tautan
Terbaru dari Twitter
Hari ini : 31
Bulan ini : 1178
Tahun ini : 16776
Anda pengunjung ya ke - : 30142
Hubungi Kami Melalui Whatsapp
Hubungi Kami
Melaui Whatsapp